always be my baby

We were as one baby
For a moment in time
And it seemed everlasting
That you would always be mine
Now you want to be free
So I'm letting you fly
Cause I know in my heart baby
Our love will never die, no

You'll always be a part of me
I'm a part of you indefinitely
Girl don't you know you can't escape me
Ooh darling cause you'll always be my baby
And we'll linger on
Time can't erase a feeling this strong
No way you're never gonna shake me
Ooh darling cause you'll always be my baby

I ain't gonna cry now
And I won't beg you to stay
If you're determined to leave girl
I will not stand in your way
But inevitably you'll be back again
Cause you know in your heart baby
Our love will never end no

I know that you'll be back girl
When your days and your nights get a little bit colder
I know that, you'll be right back
baby believe me it's only a matter of time

-David Cook- Selengkapnya...

Make a memory .... #3

:: I Hate The Rain

You whispered that you were getting tired..
Got a look in your eye, looks a lot like goodbye..
Hold on to your secrets tonight..
Don’t want to know I’m ok with this silence..
It’s truth that I don’t want to hear..

Tempat yang sama 4 tahun lalu. Pepohonan itu masih begitu rindang, tempat itu masih penuh kesejukan. Dan burung-burung itu masih saja berisik.
Dari balik rindang pepohonan, tepatnya diatas pepohonan itu, terlihat awan putih yang mulai bergumul menutupi sinar matahari. Beberapa sisi awan terlihat masih tampak putih bercahaya, tetapi di sisi lain, noktah-noktah keabuan mulai menghiasi. Tak secara sempurna awan-awan itu menghadang matahari, karena pada banyak sisi masih terlihat birunya langit. seakan awan hanya ingin membuat teduh beberapa daerah saja. Desir angin yang sedari tadi bergantian membelai kulitku seketika terhenti. Kesejukan yang dibawanya pun berganti, berganti dengan udara dingin yang begitu kuat dan semakin erat memeluk tubuh. Sebuah keanehan yang membawa tanya kenapa bisa terjadi. Perubahan suasana ini menuntunku pada kegalauan dalam diri. Tubuhku kaku, hatiku menggigil, degup jantung bergerak lambat tetapi begitu keras.

Dia terdiam. Untaian kata dari bibirnya sirna. Nada indah yang dia nyanyikan tak bersisa. Candaan mesra, tawa bahagia bahkan senyum manisnya tak lagi ada. Semua terkalahkan dan harus tunduk pada isakan tangis yang mulai terdengar lirih darinya. Aku tahu, dia berusaha keras menahan tangis itu. Namun dadanya tak cukup kuat menahan sesak. Kelopak matanya pun tak begitu kuat menahan air mata yang kian mendesak. Tetes putih bening itu pun mulai terlihat. Terlihat membasahi pipi putih bersihnya. Sebagian membasahi bagian jilbab yang terlipat dan menempel di bagian belakang wajahnya. Dia mencoba menyembunyikannya dariku dengan membuang muka kearah berlawanan dengan pandanganku. Berharap aku tak melihat tetesan air mata itu.

Terlihat dia menyeka air matanya kemudian memaksakan padangannya ke arahku. Air mata itu membuat mata sendunya semakin sendu, memerahkan dan sedikit membengkakkan kantong matanya. Berulang kali menarik nafas panjangnya, mencoba mengurangi sesak dan isak yang bersumber dari dadanya. Dia berusaha mengontrol diri, meredakan emosi yang berkecamuk dalam dirinya.

Kini dengan suara terbata, dia mencoba merangkai kata. Kata-kata yang mungkin sangat dia ucap, “sampai kapan kita harus kehujanan hanya untuk menunggu pelangi yang tak kunjung datang, mas?. Bahasa kias yang entah dia dapat darimana. Ya aku sangat faham, pelangi itu sebagai analogi dari kebahagian. Pertanyaan yang bagiku sebagai penyangsian akan tekad yang dibulatkan. “awan semakin hitam, badai semakin kencang berkelebat, gemuruh dan kilatan petir membuat hati ini kian pekat” kata-katanya terhenti oleh isak tangis, terlihat air matanya menetes, mengalir melalui pinggir pipinya. Kembali dia mengalihkankan tatapannya dari tatapanku, dan kini dia tertunduk, “aku semakin kuyup mas, aku kedinginan, lelah, dan kini aku rapuh” kata-kata yang mengisyaratkan menyerah dan pasrah terucap dalam ketundukan.
Jantungku kini tak mau berdegup lambat, semakin keras dan kencang. Hatiku pun tak mau berhenti bergetar. Dan jujur mataku mulai berkaca, dadaku pun mulai sesak. Ingin sekali air mata yang sudah berada di kedua sudut mata kubuang keluar. Tetapi tidak, air mata itu tertahan oleh ego dan harga diri dalam hati. Aku hanya bisa berusaha tenang dan mencoba menguasai diri.

Dia tak lagi menyerongkan posisi duduknya kepadaku. Karena itulah aku menggeser posisi dudukku sedikit mendekat padanya. Kubuat posisi dudukku tegak lurus dengan posisi duduknya. Aku sedikit menundukkan tubuh dan wajahku, mencari tatapan matanya yang dia sembuyikan dalam ketundukan wajahnya. Dengan lembut kuberanikan meraih tangan kanannya dengan tangan kiriku. Kubelai lembut punggung telapak tangannya dengan jemariku. Suara pelan dengan intonasi tegas keluar dari bibirku membalas kata-katanya, “Aku bisa mencarikan tempat berteduh. gelapnya awan, kencangnya badai, gemuruh dan kilatan petir ini hanya sementara.. kuberikan dekapku agar kamu tak kedinginan, memapah dan menggendongmu jika kamu kelelahan.” aku coba menyakinkannya. Semakin erat kupegang tangannya, sebagai isyarat bahwa aku benar-benar serius dengan kata-kataku. Masih dengan tertunduk kembali dia mengucapkan tanya, “tapi sampai kapan?”.

Aku terbungkam. Aneh, pertanyaan itu membuat pikiranku blank, membuat bibirku bisu dan membuat hatiku kaku. Aku tak mampu menjawabnya walau hanya dengan bahasa semu untuk menenangkan hati. Aku benar-benar terkunci mati, karena aku sadar bahwa apapun jawaban dari pertanyaannya hanya bahasa klise. Bahasa yang bisa jadi hanya berisi janji-janji yang belum tentu terberi. Bahasa yang nilai kebenaran akan sulit terbukti. Bahasa angan-angan yang sama sekali tak menyentuh keghaiban. Bahasa kebohongan yang hanya menenangkan hati, hatinya atau mungkin hanya menenangkan hatiku sendiri. Aku diam. Dan se-isyarat dia pun diam. Dan keadaan itu bertahan sampai beberapa saat.


You're hiding regret in your smile..
There's a storm in your eyes I've seen coming for a while..
Hold on to the past tense tonight..
Don't say a word, I'm ok with the quiet..
The truth is gonna change everything..


Langit mulai sempurna tertutup awan keabuan. Mengisyaratkan mendung yang mulai datang. Gemuruh suara awan mulai terdengar meskipun belum bersautan. Angin pun mengencang tak karuan. Burung-burung mulai beterbangan mencari tempat berteduh yang aman. Sementara kami berdua masih dalam diam. Dia masih tertunduk, tetap pada posisinya. Dan aku mulai menarik diri, tak lagi menghadapkan diri ke arahnya. Seakan mengambil arah sejajar dengan arah duduknya. Genggaman tanganku pun melemah, tetapi tetap aku mengenggam tangannya, tak mau kulepas walau dalam kepasrahan menyerah.

Untuk kesekian kalinya dia mengusap air matanya. Bangkit dari ketundukannya. Mencoba tegar dengan memaksakan senyum dibibirnya. Mengarahkan pandangannya utuh kepadaku. Kini dia membalas genggamanku dengan mencoba menggenggam jari-jariku. Begitu erat. Beberapa saat dengan senyum dan genggaman itu dia masih terdiam, seakan itu adalah isyarat kalo semuanya akan baik-baik saja. Sampai pada untaian kata lirih yang jelas terdengar di telingaku, “aku pergi bukan karena aku tak mencintaimu.. sungguh.. dengan segenap hati aku mencintaimu.. kalau kepergiaanku ini hanya sementara, bersabarlah aku akan kembali utuh untukmu.. tetapi kalau kepergianku untuk selamanya, ikhlaskanlah.. itu sungguh bukan kuasaku”. Dengan tetap tersenyum dia perlahan melepas genggamanku. Senyuman teraneh yang menambah koleksi senyumannya di memoriku. Jujur senyuman itu adalah yang terindah, karena itu terakhir yang dengan jujur dia berikan padaku.

Aku pun pasrah. Dengan senyuman dia pergi. Meninggalkan aku sendiri dalam kehampaan hati. Sedih dan perih. Tanpa sadar beberapa tetes air mata menetes dari sudut mataku. Tak bisa tergambarkan betapa hancur dan sakitnya hati sampai air mata itu harus keluar. Aku Patah.

Sementara langit tak bisa berbuat apa-apa, hanya diam, memandangiku dengan wajah mendungnya. Padahal aku sangat berharap langit menumpah-ruahkan tetes-tetes air hujan yang dimilikinya. Aku butuh air itu untuk membiaskan air mataku yang dengan sengaja membiarkanku menangis, untuk menyembunyikan air mataku. Oh hujan kenapa kau tak turun, aku butuh kau untuk membuktikan pada dia bahwa memang harus kehujanan untuk melihat indahnya pelangi. Pelangi yang kau ciptakan bersama seberkas cahaya matahari. oh hujan, tak bisa kah kau sekedar basa-basi menambah dramatisasi kisahku seperti dalam sinetron, film atau cerita-cerita fiksi. Dalam hati aku terus meneriaki langit.

Beberapa saat setelah dia berlalu dan tak terlihat lagi. Aku masih bertahan di tempat itu. Aku duduk sendiri. Merasakan sisa-sisa suasana dan rasa yang masih tertinggal. Pandangan kosong tetapi fikiran terus melayang-layang. Mencari rasionalisasi dari semua yang telah dilalui dan baru saja diakhiri. Masa- masa indah yang tak pernah bisa dilupakan. Masa-masa itu akan menjadi pembading lurus dari rasa sakit yang kuterima. Seperti kata-kata yang pernah dia ucapkan, “jangan dilupakan, tapi jangan diingat-ingat”. Betul, aku tak akan melupakan, tetapi untuk melanjutkan kisahku tak harus aku terus mengingatnya. Rasionalisasi fikiranku terhenti pada satu sisi kesimpulan, aku harus terima ini mungkin jalan terbaik yang harus dijalani. Terdengar sangat klise, tapi itulah.

Dedauan mulai dijatuhkan oleh pepohonan itu. Mungkin karena hembusan angin kencang yang memaksanya. Seisyarat dengan itu, wajah mendung langit yang menua mulai menjatuhkan titik demi titik air hujan. Langit mengajakku bercanda. Sengaja mengulur waktu untuk menurunkan hujan. Entah apa maksudnya. Dengan memandang langit, aku melintangkan senyum dan berkata dalam hati, “terlambat, aku tak membutuhkannya lagi”. Kini kubiarkan hujan itu membasahi semua cerita lalu. Tetapi tak kubiarkan dia membasahiku, dengan sekuat tenaga dan hati aku berlari menghindari hujan ini.

So lie to me and tell me that it's gonna be alright.
So lie to me and tell me that we'll make it through the night.
I don't mind if you wait before you tear me apart.
Look me in the eye, Lie, lie, lie.
Don't want to know I'm ok with the silence.
It's truth that I don't want to hear.
(Lie, David cook)

Selengkapnya...

Make a memory.... #2

:: Te Quiero

Senyumlah… dan si manis pun tertawa
Hadirkan…. rasa tuk berbagi cinta
Senyumlah… dan si manis pun tertawa
Hadirkan… rasa rindu dihati


Pepohonan itu begitu kokoh berdiri, begitu rimbun, dan begitu rapi. Semuanya bersatu padu berusaha keras menentang teriknya sinar matahari. Sesekali sinar itu berusaha menyelinap masuk dari sela dedaunan. Tetapi seketika itu juga dedaunan tersadar dan kembali menutupi sela itu. Tak serta merta mengusir sinar itu, sebagian dari mereka ditawan dan dipaksa bekerja sebagai bagian dari proses fotosintesis. Kandungan oksigen yang tercipta begitu kental terasa dalam setiap helaan nafas. Seakan tak mengizinkan adanya gas lain ditempat itu, seluruh cela ruang udara pun ditempatinya. Bahkan angin yang berdesir adalah akibat dari dominasi oksigen dari tempat itu. Angin yang berdesir perlahan itu justru mampu menerbangkan jiwa dan raga kedalam kesejukan.

Jasa besar pohon itulah yang menjadikan tempat itu begitu menyejukkan. Berada diantara gerbang besar kampus dan masjid agung kampus, semakin meneguhkan bahwa indahnya hidup berada disitu. Panasnya lalulalang jalan memang tampak terlihat jelas, tetapi tetap hanya ‘tampak terlihat’. Seakan ada kesejukan surgawi yang tercurah dari masijd agung membentengi panas-panas itu untuk masuk didalamnya. Layaknya sebuah taman, tempat duduk semi permanen sengaja dilingkarkan tepat dibawah pepohonan itu. Di masing-masing pohon dan melingkar. Siapapun akan merasa rugi kalau tak singgah ditempat itu, walau sesaat, siapaun itu dan sesibuk apapun orang itu, meski hanya sesaat.

Aku duduk dan menunggu, dibawah salah satu pohon. Duduk dengan menghadapkan diri pada gerbang kampus. Dan terus berharap yang aku tunggu segera muncul dari balik gerbang itu. Sesekali melihat jam di pergelangan tangan kiriku, sesekali memainkan HP, sekedar iseng bermain game, dan yang pasti berulang kali buka inbox, sekedar baca berulang sms yang beberapa menit lalu masuk, “Tggu bentaaar, dah dket kok, sabar ya ^^”. Menunggu? Kesabaranku tak akan pernah habis hanya karena menunggunya. Karena tak hanya sekali itu aku menunggunya. Beberapa menit bahkan berjam-jam tak akan ada arti dan tak jadi masalah. penantian panjang pernah aku lalui untuk menunggunya.

Beberapa menit setelah aku baca berulang smsnya, sebuah angkot melintas di luar kampus. Warna kuning yang mendominasi bodinya dan warna merah pada bagian dasbornya. Sebelum benar-benar berhenti di pinggir gerbang, terlihat sekilas gadis berjilbab dibalik kaca mobil angkot, “nah itu dia” pekikku dalam hati yang kegirangan. Aku tertegun, candaan orang-orang tentang “bagai bidadari turun dari angkot” benar-benar nyata aku alami. Aku benar-benar melihatnya. Seketika senyumku mengembang begitu sempurna, tanpa diperintah. Subhanallah, tak pernah jemu aku memandang begitu indahnya dirinya.

Jilbab kuning muda berhias bordir motif bunga di sudut bagian belakang, Setelan baju bergaris tegak dengan paduan warna kuning, coklat muda dan putih, yang didominasi wana kuning. Bawahan panjang berwarna coklat agak kehitaman. Padu padan busana yang sangat apik. Motif baju bergaris itu seakan menjadi jembatan warna yang menjadi penghubung antara jilbab dan bawahan yang dikenakannya. Dia memang sangat fashionable.

Tak segera aku menghampirinya, sejenak sengaja kubiarkan dia beridiri di pojok kiri gerbang, dan kubiarkan dia mencari-cariku. Kebingungan tetapi tetap berusaha tenang. Melangkahkan mundur kakinya dan menyandarkan tubuhnya pada dinding gerbang. Isyarat tubuh yang menyatakan dia ‘menyerah’ mencariku. Senjata terakhir adalah HP yang sedari tadi sudah ada di tangan kanannya. Aku tahu yang akan dia hubungi, pastilah aku. HP-ku pun berbunyi, sengaja tak kuangkat tapi segera aku berdiri dari tempat duduk dan menghampirinya.

Spontan senyumnya melintang di wajahnya ketika melihatku. Senyuman manis yang selalu berhias dua lesung pipit di kedua sudut pipinya. Dia masih tetap bersandar di dinding seolah sengaja membiarkan aku datang menjemputnya, dua tangan dia satukan dengan menggenggam HP, separuh HP dia genggam dengan kanan dan separuhnya lagi dia genggam dengan tangan kirinya. Sesekali dia menggerakkan tubuhnya maju kedepan dan ke belakang, menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri, seolah tak sabar agar aku cepat menghampirinya.

Senyumnya kini bercampur manyun ketika aku ada tepat di depannya. Wajahnya di tekuk lucu, tapi tetap dia tak mampu menyembuyikan sisa senyum yang ada di wajahnya. “Kemana?” tanyanya dengan berpura jengkel, aku tersenyum dan telunjuk tanganku mengarahkan pandangannya pada tempat aku duduk, “kenapa ga langsung kesini?”, aku masih tersenyum “sengaja” jawab singkatku. Terlihat dia mengerutkan dahinya, seolah kembali ada banyak tanya dalam fikirnya, sebelum dia menanyakan itu, aku mendahuluinya ”sengaja.. pengen ngliat perempuan cantik ini kebingungan, ternyata lucu juga” ketawa ringan keluar dariku. “Hah.. dasar.. gombal.. Puass.. kebiasaan!!” merasa aneh dengan apa baru saja yang aku lakukan. Tahu kesengajaan yang aku buat, kini dia berpura marah, mata dipaksa menatap tajam, alisnya diangkat dan senyumnya berusaha dibuangnya. Aku hanya tersenyum itu, jujur dia terlihat begitu cantik dengan ekspresi seperti itu. Aku yakin itu hanya kepuraan dan tak akan bertahan lama, hanya dalam hitungan detik. Dan benar, semua ekspresi yang dia munculkan, manyun, jengkel, bingung dan marah melebur dalam sebuah senyuman manis dari bibirnya. Dia memang begitu ekspresif, aku selalu menikmati setiap ekpresi yang dia buat sebagai sebuah keindahan.

Berdua kami melangkah meninggalkan gerbang. Tempat duduk tepat dimana aku duduk menunggunya telah menunggu. Banyak tempat duduk dengan suasana yang sama, tetapi kami lebih memilih tempat itu. Karena disitu lalalulang orang tak begitu sering dan tak begitu banyak. Dengan kata lain tak akan ada banyak orang yang menganggu. Berkisah apapun akan lebih nyaman, bahkan mungkin lebih indah. Dan di tempat duduk itulah kami berdampingan. Kami duduk dengan menyerongkan badan saling berlawanan arah. Dia disisi kiriku, mengarahkan posisi duduknya kepadaku, dan akupun sebaliknya. kami memang tak berhadapan tapi dengan jelas kami bisa saling menatap. Dan kecantikan tampak terlihat jelas di depan mataku.

Kicauan burung-burung kecil diatas kami begitu berisik. Mereka terus menerus berteriak, meneriaki kemesraan kami. Pastilah teriakan kecemburuan karena aku yakin mereka tak akan pernah bisa semesra kami. Senyum kecil dibibir dan teriak kecil dalam hati menertawakan burung-burung kecil itu. Alangkah bodohnya mereka, mereka tidak sadar, justru teriakan mereka semakin menghiasi kemesraan kami. Dan dengan begitu mereka akan semakin cemburu.. Kami begitu ‘mesra’dalam segala kisah yang kami kisahkan. Kemesraan yang hakiki tanpa unsur negatif didalamnya. Saling memberi saling menerima, saling mengisi dan saling melengkapi. Siapapun pastilah akan iri melihat kemesraan kami. Dan kami tak peduli itu.

Dia tersenyum manis kepadaku, kemudian dengan artikulasi lirih dia berbisik, “Te queiro”.
"Te Amo demasiado", jawabku.
Selengkapnya...

"Kau ini bagaimana atau aku harus bagaimana -gusmus-



Kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir

aku harus bagaimana?
kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai

kau ini bagaimana?
kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan


aku harus bagaimana?
aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimbung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku

kau ini bagaimana?
kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya

aku harus bagaimana?
aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain

kau ini bagaimana?
kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai

aku harus bagaimana?
aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya

kau ini bagaimana?
kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah

aku harus bagaimana?
aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bissawab

kau ini bagaimana?
kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku

aku harus bagaimana?
aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu

kau ini bagaimana?
kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis

aku harus bagaimana?
kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja

kau ini bagaimana?
aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku

kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?

1987
Mustofa Bisri (Gus Mus)
Selengkapnya...

BILA KUTITIPKAN *Gus Mus*

Puisi Gus Mus..Pertama kali dengar gus mus mendeklamasikannya tahun 2008.. Dan menjadi puisi favorit –tanpa menafikan keindahan puisi-puisi gus mus yang lain- sampai saat ini..

Bila kutitipkan dukaku pada langit
Pastilah langit memanggil mendung
Bila kutitipkan resahku pada angin
Pastilah angin menyeru badai
Bila kutitipkan geramku pada laut
Pastilah laut menggiring gelombang
Bila kutitipkan dendamku pada gunung
Paslilah gunung meluapkan api. Tapi
Kan kusimpan sendiri mendung dukaku
Dalam langit dadaku
Kusimpan sendiri badai resahku
Dalam angin desahku
Kusimpan sendiri gelombang geramku
Dalam laut fahamku.
Ku simpan sendiri
Selengkapnya...

Make a memory .... #1

:: Random Of Memories


Di sela usia masa lajangku. Terlintas dengan tiba-tiba dan terduga, slide demi slide pencaraianku akan sebuah makna cinta. Anehnya beberapa bagian begitu jelas dan begitu nyata terlihat di depan mata fikirku. Ragaku menjadi tak berdaya, rasaku tak bisa berkata-kata, hanya diam. Tak ada yang bisa aku lakukan selain membiarkan dengan pasrah slide demi slide itu bicara. Bicara tanpa terurut menjadi random slide yang berujung pada sebuah kenangan.


Slide 1

Cantik.. Kata itu akan selalu terucap dihati setiap kali aku memandang wajahnya.. paras ayu.. putih bersih.. bening.. lesung pipit di masing-masing sudut pipinya.. binar mata yang selalu tampak basah dan berkaca-kaca.. pancaran sendu dari setiap tatapannya.. senyum manis nan menawan dari bibir mungilnya.. merona merah jambu meskipun tanpa olesan gincu.. pesona wajahnya tak akan pernah terkalahkan oleh perempuan manapun didunia ini bahkan mungkin bidadari syurga.. dia bidadariku..

Anggun.. dia memang begitu anggun.. setiap langkahnya selalu seirama dengan gerak tubuhnya, seakan ada irama yang menuntun mengiringi gemulai tubuhnya.. tutur katanya begitu santun, paduan kata penuh makna, juga intonasi yang begitu sempurna, seakan ada nada yang menjadikan rima itu begitu indah.. apapun yang terucap selalu bisa membuat telingaku terhipnotis mendengarnya..

Jilbab.. Satu hal yang membuat kecantikan dan keanggunannya tampak begitu sempurna, jilbab yang dikenakannya.. tak hanya menutupi tubuh tetapi juga dirinya.. Iya Jilbab, mungkin perlu digaris tebal bahwa dia memakai jilbab bukan kerudung.. bagiku dua kata sekaligus dua benda itu adalah berbeda, mungkin serupa tapi tak sama.. Jilbab lebih kepada pemaknaan tak hanya sebagai menutup aurat, tetapi juga sebagai kunci menejemen diri baik laku, fikir ataupun hati. tapi kalau kerudung mungkin hanya sekedar akibat dari fashion..


Slide 2

Dia tersenyum padaku.. tak akan pernah kulupa senyum itu, senyuman tulus yang tak hanya dari bibir tapi juga dari hati.. satu senyuman darinya mengisyaratkan sejuta makna kebahagiaan bagiku..


Slide 3

Ekspresif.. aku menyebutnya begitu.. layaknya pemain watak dalam sebuah teater yang mampu memainkan segala peran.. peran apapun bisa dia mainkan.. wajahnya bisa ditekuk sedemikian rupa sehingga bisa begitu terlihat cemberut.. manyun.. lucu.. atau ketika dia mengekspresikan keceriaan, maka keceriaanlah yang akan ada, atau ketika dia berpura bahagia, maka kebahgiaan itu begitu nyata.. Segala peran untuk kebahagiaan.. kadang begitu dewasa tapi kadang begitu manja..

Dewasa.. dia bisa menjadi labuhan segala rasa.. ketika duka menyesakkan dada, ucapannya selalu bisa menenangkan jiwa.. atau ketika suka tiba-tiba datang menyapa, segala rasa yang dia punya pun ikut larut didalamnya.. kedewasaan yang tidak di paksakan.. tapi bener-bener natural tumbuh dari ilmu dan pengalamannya.. Manja.. sisi yang berbanding terbalik dengan kedewasaan.. tetapi menjadi pembading yang seimbang dari kepridiannya yang sempurna.. muncul secara naluriah.. tidak dibuat-buat.. layaknya gadis kecil yang selalu mecari dan mencuri perhatian dari sosok yang disayanginya..

Modis.. biasanya kata ini di identikakan dengan apa yang dia kenakan.. ya dia sangat modis.. sangat fashionable. Pemilihan warna pakaian yang sederhana tetapi selaras dengan motif dan corak penghias kain. Demikian juga dengan model balutan jilbabnya, tiap lipatannya begitu indah menyatu dengan keindahan wajahnya.. harminosasi balutan jilbab dengan pakaian yang dia kenakan semakin meneguhkan keanggunannnya..


Slide 4

Where ever you will go.. lagu The Calling yang terdengar begitu jelas di telinga fikirku.. lagu itu yang menjadi soundtrack smallvile session 1, backsound kisah cinta clark dan lana lang, seakan berubah menjadi backsound dari perjalanan cintaku.. tak dapat disangkal lagu itu memberi banyak kenangan tentang dia..

Juga dear god-nya Avenged Sevenfold.. alunan musik balad dengan iringan gitar akustik yang begitu kental pernah menjadi sebuah bahasan yang menarik antara aku dan dia.. bukan hanya soal music dan liriknya yang begitu easy listening tetapi juga tentang intepretasi syair dalam lagu itu.. aku ingat, kita begitu nyambung dalam argumentasi tentang lagu ini, sampai pada kesimpulan, “seorang rocker yang tampilannya beringas pun, masih punya hati, meminta Tuhan untuk melindungi kekasihnya yang berada jauh dari sisinya”.

Memoar.. dua lagu itu sampai sekarang masih terus jadi lagu favoritku.. masih selalu mengiringi hari- hariku.. menjadi soundtrack dalam setiap episodeku..


Slide 5

Dia sosok yang sangat memberi arti dalam diriku.. darinya aku banyak belajar.. belajar segala.. tentang tawa.. tentang duka.. tentang asa.. tentang nestapa.. dan juga tentang cinta.. sosok yang tak pernah membuatku merasa jemu bila disampingnya..

sosok yang selalu kurindukan.. tawanya kurindu.. candanya kurindu.. senyumnya kurindu.. untaian katanya kurindu.. kecantikannya kurindu.. keanggunannya kurindu.. kedewasaanya kurindu.. manjanya kurindu.. setiap keindahan darinya kurindu..


Final Slide

Dia perlahan melepas genggamanku.. perlahan melangkah mundur.. bibir mengurai senyum.. untaian kata lirih berbisik tetapi jelas terdengar di telingaku, “aku pergi bukan karena aku tak mencintaimu.. sungguh.. dengan segenap hati aku mencintaimu.. kalau kepergiaanku ini hanya sementara, bersabarlah aku akan kembali utuh untukmu.. tetapi kalau kepergianku untuk selamanya, ikhlaskanlah.. itu sungguh bukan kuasaku”.

perlahan dia meninggalkanku.. perlahan melepas senyum yang seakan tercipta hanya untukku.. perlahan memudarkan kecantikan dalam lamunku.. perlahan mengaburkan keanggunan dalam ingatanku.. perlahan memburamkan harapan suciku.. dan perlahan mengubur dalam asaku.. dia pergi.. dia tak terlihat lagi..


gelap.. pandangan mataku tak bisa menatap.. seketika saat slide itu menghilang.. tetapi aku masih terdiam.. my subconscious mind tetap belum tersadar.. seakan tak rela melepas kenangan demi kenangan yang baru saja terlintas.. dalam diam, spekulasi hati memberi dual-intepretasi dibalik slide kenangan yang tergambar.. satu sisi hati kenangan itu mengiris hati.. tetapi disisi lain kenangan itu telah memberi manis perjalanan hidupku ini.. apapun itu.. biarlah menjadi kuasa Illahi..

Selengkapnya...